Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Perubahan Kurikulum 2013: Ujian Nasional Dievaluasi

Implikasi perubahan ujian nasional (UN) pada perubahan kurikulum 2013 disorot. Pemerintah diminta mengevaluasi UN, sebab sistem penilaian pun tidak semata dari tes.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, di Jakarta, Senin (3/12/2012), mengatakan penilaian ditekankan pada dua hal sekaligus yaitu proses dan output.

"Dua-duanya penting. Proses yang sekarang masih lemah kita perkuat lagi dalam evaluasinya," katanya. Pemerintah meyakini pelaksanaan UN sudah mengakomodasi penilaian yang memperhitungkan proses belajar siswa. Sebab, nilai UN hanya salah satu penilaian, ada tambahan penilaian dari sekolah.

"Uji publik kurikulum baru ini untuk menerima masukan yang dapat menyempurnakan kurikulum yang disusun pemerintah. Nanti kami kaji lagi bersama tim ahli untuk memperbaiki hal-hal yang kurang, termasuk dalam evaluasi," kata Nuh.

Pada beberapa uji publik, berbagai pemangku kepentingan pendidikan mendesak pemerinah mengembalikan UN sebagai pemetaan pendidikan. Selama UN masih berfungsi seperti saat ini, yakni penentu kelulusan, perubahan kurikulum 2013 tidak berdampak signifikan dalam perubahan pembelajaran di sekolah.

Bermain Sangat Penting Untuk Perkembangan Anak

Banyak orang tua kurang menyadari bahwa bermain adalah instrumen penting dalam perkembangan anak, baik motorik maupun sensorik. "Terkadang orang tua berpendapat bermain bagi anak hanya di dapatkan dalam pendidikan formal. Padahal bermain dapat dilakukan para orang tua melalui kegiatan sehari-hari yang sederhana serta penuh kegembiraan," kata pemerhati anak Dewi Hughes.

Dewi menjadi pembicara dalam seminar Parenting Creativity for Kids Faber-Castell yang dilaksanakan Sabtu di Jakarta. Dewi mengatakan orang tua akan lebih bijaksana apabila dapat menempatkan diri sebagai teman bermain bagi anak.

"Hal itu akan mendorong anak maupun orang tua sama-sama melakukan explorasi dalam bermain," katanya. Bermain menurut Dewi Hughes dapat membangun sisi komunikasi, motorik, kinestetik, kemampuan analisa dan bahasa seorang anak.

Dia mengingatkan pentingnya pemilihan produk mainan bagi anak. "Orang tua harus dapat memilih produk yang unik yang dapat meningkatkan sisi kreativitas serta bernilai edukatif," kata Dewi yang juga Duta Pendidikan Anak Usia Dini, Non Formal dan Informal (PAUDNI) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut.

Sementara itu Product Supervisor Creativity for Kids, Niken D. Mahanani mengatakan bahwa dengan bermain anak akan bebas berekspreasi, bereksplorasi dan berimajinasi serta pada akhirnya dapat membangun kemandirian anak dalam proses tumbuh kembangnya.

Niken D Mahanani menjelaskan bahwa Creativity for Kids Faber-Castell berusia 36 tahun dan didirikan oleh Phyllis Brody & Evelyn Greenwald asal Amerika Serikat. Creativity for Kids dalam perkembangannya telah memperoleh berbagai penghargaan di beberapa negara diantaranya Prestigigios Award dari Parent’s Choice, Corporate Citizenship Award dari Presiden Amerika Bill Clinton (1996) dan Award of Excellence for Best Retailer Customer Service from Learning Express (2004). (sumber: Antara)